Expert 18 Juni 2026 Oleh: Admin Persadalab

Mengenal Bahaya Metal Fumes di Tempat Kerja bersama Pakar Industrial Hygiene

Mengenal Bahaya Metal Fumes di Tempat Kerja bersama Pakar Industrial Hygiene

Dalam proses operasional bisnis, metal fumes merupakan ancaman nyata yang tersembunyi. Selain karena ukuran yang super kecil, paparan dengan intensitas tinggi bisa menyebabkan penyakit seperti metal fume fever atau bahkan penyakit lainnya seperti gangguan pernapasan kronis dan kanker.

PT Graha Mutu Persada menginisiasi Webinar Mimbar Pakar, sebuah forum yang membahas berbagai isu terkait lingkungan dan K3 secara komprehensif dan aplikatif secara daring yang dibuka dengan topik “Metal Fumes 101 : Definisi, Regulasi, dan Dampak Pentingnya bagi Industri” bersama ibu Julita Malomba, S.Si., S.Pd., ATPA seorang praktisi yang telah berpengalaman di bidang K3. “Topik ini seringkali dianggap sederhana, namun memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan pekerja, kepatuhan regulasi, dan keberlangsungan operasional perusahaan” ujar ibu Julita sebagai pembuka sesi.

Apa Itu Metal Fumes dan Apa Bedanya dengan Debu Logam?

Metal fumes merupakan partikel logam yang sangat halus, terbentuk dari proses pemanasan logam hingga menguap, kemudian mengalami pendinginan sehingga mengembun di udara. Partikel ini berukuran sangat kecil, bahkan di bawah 1 mikrometer. Uap ini dihasilkan dari proses termal / pemanasan pada suhu tertentu.

Ukuran yang sangat kecil memungkinkan partikel melewati sistem penyaringan alami saluran pernafasan. Jika sudah masuk ke paru-paru, partikel relatif sulit dikeluarkan oleh mekanisme pertahanan tubuh sehingga dapat menumpuk dan menimbulkan efek jangka panjang yang jauh lebih berbahaya.

Baca Juga : Apa Itu Fume dan Mengapa Paparan Metal Fume Bisa Berbahaya di Lingkungan Kerja?

Perbedaan Mendasar dengan Debu Logam

Perbedaan paling mendasar yakni pada proses terbentuknya, dimana debu logam dihasilkan dari proses mekanis seperti pemotongan logam dan gerinda tanpa melibatkan proses pemanasan.

Ibu Julita menjelaskan, “Debu logam terbentuk secara mekanis berhubungan dengan kegiatan pemotongan, gerinda, namun tanpa menggunakan energi panas. Berbeda dengan metal fume yang melibatkan proses termal disana”.

Mengapa Inhalasi Metal Fumes Sangat Berbahaya bagi Tubuh Pekerja?

Salah satu jalur utama pajanan metal fume yakni melalui pernafasan (inhalasi). Selain karena intensitas dan potensi paparan yang besar, pajanan melalui pernafasan ini memiliki bahaya tersendiri disebabkan beberapa faktor berikut : 

  • Tidak Dapat Disaring oleh Hidung dan Tenggorokan

Seperti yang telah dijabarkan di atas, ukuran partikel yang super kecil menyebabkan partikel dapat masuk ke saluran pernapasan bawah, hingga alveoli yang memegang peran vital sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

  • Sulit Dikeluarkan oleh Mekanisme Pertahanan Tubuh

Partikel yang terlanjur masuk tidak mudah dikeluarkan oleh mekanisme pertahanan tubuh manusia secara biologis. Akibatnya, partikel mengendap di organ pernafasan sehingga menimbulkan dampak jangka panjang bagi kesehatan.

  • Potensi Efek Akut dan Kronis

Tumpukan partikel metal fume dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut maupun kronis, seperti iritasi, gangguan paru, penyakit jangka panjang, dan sebagainya.

Mengenal Dampak Kesehatan : Dampak Akut vs Dampak Kronis

Setelah mengetahui bahwa paparan metal fume memiliki dampak negatif bagi kesehatan pekerja, penting untuk mengetahui bahwa efek paparan bisa jadi memiliki dampak yang berbeda, baik jangka pendek maupun panjang.

Dampak paparan metal fume terbagi menjadi dua jenis, yakni dampak akut dan dampak kronis yang dijelaskan sebagai berikut : 

Dampak Akut

Dampak akut seringkali terjadi pada kondisi ketika konsentrasi paparan sangat tinggi serta di ruangan dengan sirkulasi udara buruk. Jenis dampak ini umumnya bersifat sementara, namun juga dapat menimbulkan dampak fatal pada kondisi tertentu.

Beberapa contoh dampak akut akibat paparan metal fume diantaranya : 

  1. Peradangan paru akut (acute chemical pneumonitis)

  2. Gangguan pertukaran oksigen

  3. Gagal napas takut

Adapun dampak akut biasa diawali dengan gejala ringan seperti demam, batuk, dan sesak ringan sehingga disalahpahami sebagai masuk angin biasa.

Dampak Kronis

Dampak kronis bisa jadi tidak langsung terlihat tepat setelah paparan terjadi, bahkan bisa jadi bertahun-tahun setelah paparan terjadi. Hal ini terjadi akibat paparan berulang dalam jangka panjang yang tidak mampu dibersihkan oleh sistem imun tubuh.

Beberapa contoh dampak kronis (jangka panjang) akibat paparan metal fume secara terus menerus, yakni : 

  1. Penyakit paru kronis (bronkitis kronis, penurunan fungsi paru)

  2. Gangguan sistem saraf (ex : akibat paparan mangan (Mn))

  3. Sensitisasi (peningkatan kepekaan secara ekstrem terhadap pajanan)

  4. Asma kerja

Karena efeknya terasa dalam jangka waktu panjang, paparan seperti ini seringkali dipandang remeh. Akibatnya produktivitas jangka panjang karyawan jadi menurun yang menimbulkan kerugian yang tidak kasat mata bagi perusahaan.

Sebagai penutup pembahasan ini, ibu Julita juga menambahkan “ketika terjadi gejala kan orang Indonesia bilangnya masuk angin, merasa kelelahan, kecapekan. Padahal kalau sudah mengalami kerusakan kronis, maka sulit dikembalikan. Karena kita kan tidak memiliki suku cadang ya Bapak / Ibu”. 

Baca Juga : Metal Fume Fever : Penyakit akibat Paparan Metal Fume dan Asap Logam di Tempat Kerja

Aktivitas Industri yang Rentan terhadap Paparan Metal Fume

Dalam praktik operasional industri, terdapat beberapa aktivitas yang memiliki potensi paparan metal fume lebih tinggi sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih. Dalam paparan materinya pada Webinar Mimbar Pakar eps. 1 Januari lalu, Ibu Julita Malomba menyebutkan beberapa proses operasional secara spesifik sebagai berikut : 

  1. Pengelasan (Welding)

  2. Peleburan dan Pengecoran Logam

  3. Pemotongan Termal

  4. Proses perbaikan, fabrikasi, dan maintenance logam

  5. Brazing dan soldering

Pakar lingkungan yang memiliki pengalaman lebih 15 tahun tersebut menyampaikan bahwa paparan metal fumes tidak hanya rentan pada area produksi utama. Justru pekerjaan non-rutin yang tidak diberi perhatian khusus seringkali memiliki risiko lebih tinggi jika paparan terjadinya dalam intensitas tinggi.

Ia juga menambahkan, bahwa pada beberapa proses seperti brazing  dan soldering seringkali dianggap lebih minim resiko karena menggunakan suhu yang lebih rendah dibanding pengelasan. Namun dalam konteks industrial hygiene, Ibu Julita menegaskan bahwa proses tersebut tetap perlu perhatian, khususnya jika terjadi pada jarak yang sangat dengan dengan area pernapasan pekerja.

Strategi Pengendalian Risiko Uap Logam berdasarkan Hirarki Kontrol K3

Para pakar K3 terdahulu telah menyusun prinsip dan framework dalam bentuk hirarki kontrol K3. Tujuannya sederhana, yakni membantu para praktisi dalam mengurangi risiko terhadap keselamatan dan kesehatan para pekerja. Adapun dalam konteks metal fume, penyandang gelar Ahli Higiene Industri Madya (HIMA) ini menjabarkan dengan rincian berikut : 

  • Eliminasi & Substitusi

Prinsip dasar dari tahapan ini yakni menghilangkan sumber pembentukan metal fumes serta mengurangi potensi pajanan sejak tahap desain proses operasional. Dengan itu, sumber pajanan dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan.

Beberapa contoh konkret dalam konteks mengurangi paparan metal fume, yakni : 

  1. Mengganti welding manual dengan prefabrikasi off-site

  2. Substitusi material galvanis menjadi material non-galvanis

  3. Penggunan low-fume welding consumables

  4. Mengganti metode sambungan (mechanical joint)

  • Engineering Control

Berbeda dengan tahap sebelumnya yang berfokus pada meminimalisir / menghilangkan sumber metal fume, tahap ini berfokus untuk mencegah metal fume menyebar ke udara lingkungan kerja dengan cara menangkap metal fumes di titik pembentukannya.

Contoh penerapan engineering control untuk mengurangi paparan metal fumes, yakni : 

  1. Penggunaan Local Exhaust Ventilation (LEV) pada welding

  2. Penggunaan fume extraction arm

  3. Enclosure proses panas

  4. General ventilation sebagai pendukung

  • Kontrol Administrasi

Jika dua tahapan di atas tidak bisa dilaksanakan dengan optimal, maka upaya berikutnya yang dapat dilakukan yakni administrative control yang bertujuan mengurangi paparan dengan cara membatasi durasi dan frekuensinya. Hal ini diharapkan dapat mengurangi intensitas paparan metal fumes sehingga risiko terhadap pekerja dapat berkurang.

  1. Penyusunan dan pelaksanaan SOP untuk pekerjaan panas (hot work)

  2. Memastikan setiap pekerja yang berkaitan  mendapatkan hot work permit

  3. Pembatasan waktu kerja & rotasi pekerja

  4. Sosialisasi dan pelatihan terkait bahaya metal fumes

  5. Penjadwalan pekerjaan beresiko tinggi

  • Alat Pelindung Diri (APD)

Terakhir, yakni metode yang paling familiar namun sekaligus paling lemah untuk melindungi individu dari pajanan metal fumes. Perlindungan bersifat individual, bukan dengan mengendalikan sumber bahayanya.

Adapun beberapa Alat Pelindung Diri (APD) yang dapat digunakan, yakni : 

  1. Respirator partikulat (P100, N95 - digunakan sesuai potensi risiko)

  2. Respirator dengan filter jenis logam spesifik

  3. Fit test respirator (memastikan respirator tight-fitting - terpasang secara rapat tanpa celah)

Ibu Julita Malomba memberikan kalimat penutup sebagai refleksi terhadap Mitra Persada yang hadir pada Webinar Mimbar Pakar eps. 1 kemarin, “Tugas kita menjadi penerjemah dengan manajemen itu menjadi penting. Bagaimana kita melihat fenomena ini secara utuh, sehingga bisa membahasakan kepada manajemen bahwa ini harus menjadi perhatian”.

Webinar Mimbar Pakar eps. 1 yang dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Januari 2026 menjadi awal perjalanan dimana Mimbar Pakar berkomitmen menjadi forum lingkungan terdepan, yang secara komprehensif membahas berbagai isu lingkungan dalam lingkup industri. 

Kami bertekad menyediakan forum dengan pembahasan yang konkret dan aplikatif sehingga langsung dapat dipraktikkan setelah sesi berakhir.

PT Graha Mutu Persada berharap, forum ini dapat menjadi langkah awal bagi Mitra Persada untuk sadar dan mulai bergerak demi keseimbangan antara industri dan lingkungan yang lebih baik.

Share:

Related News

View all news

Belum ada artikel terkait.

Link berhasil disalin!
Hubungi Kami