Setiap Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menghasilkan limbah cair dalam jumlah yang luar biasa besar setiap harinya. Sayangnya, sebagian besar masih dikelola secara konvensional sehingga tidak hanya mencemari lingkungan, namun juga menyia-nyiakan potensi sumber energi dari gas yang dihasilkan.
Dengan metode methane capture, Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat menjadi salah satu potensi sumber utama biogas.
Mengapa POME Sangat Kaya Akan Biogas?
Biogas terbentuk dari proses penguraian bahan organik, dengan kandungan utama berupa gas metana dan karbon dioksida. Kandungan organik pada POME sangat tinggi, ditandai dengan parameter COD yang bisa mencapai 50.000-70.000mg/liter. Semakin tinggi kandungan organiknya, semakin tinggi pula potensi biogas yang dihasilkan.
Data menunjukkan, setiap 1m³ POME berpotensi menghasilkan 28-30m³ biogas, dengan kandungan metana berkisar 55-75%. Gas yang dampak pemanasannya bahkan mencapai 28x lipat dibanding COâ‚‚ jika dibiarkan lepas ke udara.
Sebaliknya, jika ditangkap dan diolah dengan baik, kehadirannya justru dapat menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik maupun bahan bakar boiler di PKS.
Cara Kerja Methane Capture di PKS
Selama ini, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menggunakan open lagoon pada kolam penampungan POMEnya, sehingga gas metana langsung dilepas ke udara dan berkontribusi pada peningkatan emisi GRK.
Proses methane capture memanfaatkan covered lagoon sebagai penutup kolam untuk menangkap biogas hasil penguraian bakteri di kolam anaerobik. Gas yang telah ditangkap kemudian dialirkan ke berbagai unit pemanfaatan yang dimiliki PKS.
Pemanfaatan Biogas di Pabrik Kelapa Sawit
Biogas yang ditangkap dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasional PKS, mulai dari pembangkit listrik hingga bahan bakar boiler.
-
Pembangkit Listrik
Gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian bakteri di kolam anaerobik ditangkap dan dialirkan ke mesin penghasil listrik. Gas metana berfungsi sebagai bahan bakar untuk memutar generator yang kemudian dapat menghasilkan listrik untuk mendukung operasional pabrik.
Kapasitas yang dihasilkan juga tidak main-main. PKS dengan kapasitas 30 ton TBS / jam dapat menghasilkan listrik hingga 1 Megawatt, atau setara dengan kebutuhan listrik 500-700 rumah tangga setiap harinya hanya dari POME.
Baca Juga : Kenali Fenomena Souring pada Kolam Anaerobik POME PKS
Daya listrik yang dihasilkan sangat bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan pabrik terhadap listrik PLN dan genset solar, khususnya untuk memenuhi kebutuhan harian seperti pompa air, sistem pendingin, lampu dan penerangan, serta fasilitas umum lainnya di kawasan pabrik.
-
Bahan Bakar Boiler
PKS membutuhkan uap panas dalam jumlah yang sangat besar karena berkaitan langsung dengan berbagai proses operasional, seperti sterilisasi TBS, klarifikasi minyak, serta penggerak turbin uap pembangkit listrik.
Selama ini, bahan bakar utama boiler memanfaatkan cangkang dan fiber sawit. Namun karena keterbatasan jumlah serta potensi nilai ekonomi cangkang sawit, mekanisme ini belum menjadi solusi yang ideal bagi PKS.
Pemanfaatan biogas secara optimal dapat mengurangi porsi cangkang dan fiber, sehingga cangkang dapat dijual sebagai komoditas ekspor dengan harga mencapai 80-120 USD / ton.
Keuntungan Ekonomi dan Penurunan Emisi GRK
Sub-pembahasan di atas telah menyinggung terkait pemanfaatan biogas melalui methane capture memberikan manfaat di berbagai sisi, baik nilai ekonomi, efisiensi energi, maupun pemenuhan regulasi dan sertifikasi sebagai syarat masuk ke pasar ekspor.
Nilai Ekonomi & Efisiensi Energi
Bisa dibayangkan dengan potensi di atas, bila kapasitas produksi biogas suatu pabrik mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya, biaya operasional PKS dapat berkurang sangat signifikan. Ditambah jika produksi listrik surplus, penjualan listrik ke PLN juga bisa menjadi peluang yang menarik bagi PKS.
Belum lagi potensi cangkang sawit yang juga memiliki nilai ekonomi bahkan bisa menjadi salah satu sumber revenue tambahan bagi perusahaan.
Kepatuhan Regulasi & Sertifikasi
Masifnya perkembangan industri sawit juga diikuti dengan meningkatnya perhatian pemerintah tentang penegakan regulasi lingkungan. Beberapa bentuk regulasi terkait pengelolaan lingkungan bagi PKS, diantaranya :
-
Permen LHK 5 / 2014
Regulasi ini menjadi acuan standar baku mutu air limbah bagi berbagai jenis usaha dan kegiatan industri, termasuk diantaranya sektor kelapa sawit.
-
Indonesian Sustainability Palm Oil (ISPO)
Diatur lewat Peraturan Presiden (Perpres) no. 16 / 2025, ISPO menjadi sistem sertifikasi standar nasional untuk memastikan industri kelapa sawit di Indonesia dikelola menggunakan prinsip berkelanjutan, ramah lingkungan, dan taat terhadap hukum yang berlaku.
Regulasi di atas tidak hanya mengatur perkebunan sawit, namun juga merambah industri hilir sawit serta bioenergi berbasis sawit seperti biogas.
-
Roundtable Sustainability Palm Oil (RSPO)
Regulasi ini bersifat voluntary di Indonesia, namun telah banyak digunakan sebagai syarat menembus pasar global. Banyak perusahaan di tingkat Internasional telah mewajibkan suppliernya memiliki sertifikasi RSPO.
-
International Sustainability and Carbon Certification (ISCC)
ISCC merupakan sistem sertifikasi yang memastikan rantai pasok bahan baku dan produk turunannya (hulu hingga hilir) memenuhi prinsip berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon global.
Sertifikasi ini memiliki beberapa prinsip, diantaranya kriteria berkelanjutan (sustainability), perhitungan jejak karbon (GHG calculation), serta sistem pelacakan rantai pasok (chain of custody).
Artinya, ISCC tidak hanya berisi prinsip-prinsip dasar yang harus dipenuhi, melainkan juga mencakup perhitungan sistematis terkait perhitungan emisi, dan methane capture sangat berpengaruh signifikan terhadap angka perhitungan emisi yang dapat menentukan lolos-tidaknya biofuel untuk diekspor ke negara Uni-Eropa.
Tantangan Terbesar Methane Capture : Kestabilan Biologis IPAL
Investasi untuk methane capture terbilang mahal, mengingat komponen yang kompleks meliputi covered lagoon, genset, sistem perpipaan gas, serta instrumen monitoring. Namun, investasi besar itu bisa jadi gagal total akibat souring yang menyebabkan rusaknya stabilitas biologis di dalam kolam anaerobik.
Baca Juga : Jaga Kestabilan Biologis IPAL PKS melalui Rasio VFA / Alkalinity yang Seimbang
Souring merupakan kondisi ketika kolam pengolahan limbah cair menjadi terlalu asam akibat overload POME. Hal ini bukan fenomena yang bisa terjadi dalam semalam. Terdapat indikasi yang menunjukkan tanda-tanda kolam mengalami souring.
PT Graha Mutu Persada berperan bukan hanya sebagai penyedia laboratorium uji lingkungan, namun juga sebagai detektor untuk kondisi kolam anaerobik. Adapun parameter yang perlu dipantau diantaranya pH, VFA, serta alkalinitas agar tidak ada tanda-tanda yang terlewat, sehingga bisnis dapat terhindar dari kerugian yang jauh lebih besar.
Kesimpulan
POME pada dasarnya merupakan potensi aset yang sangat berharga bagi industri kelapa sawit. Namun potensi juga perlu dioptimalkan dengan penanganan yang tepat, diantaranya dengan mencegah souring IPAL dengan menyeimbangkan kadar VFA dan alkalinitasnya.
Webinar Mimbar Pakar - Palm Oil Series #2 yang diinisiasi oleh PT Graha Mutu Persada bersama Prof. Dr. Eng. Ir. Udin Hasanudin, M.T akan mengupas lengkap bagaimana stratengi pencegahan souring IPAL, serta optimalisasi methane capture sebagai media untuk menekan emisi GRK.
Informasi pendaftaran selengkapnya bisa diakses melalui tautan berikut. Jangan lupa bergabung karena webinar ini GRATIS!