Lingkungan 12 Juni 2023 Oleh: Admin Persadalab

Apa Itu Air Lindi? Penyebab Sakit Kulit, Dermatitis, dan Diare

Apa Itu Air Lindi? Penyebab Sakit Kulit, Dermatitis, dan Diare

Mitra Persada pernah nggak, mencium aroma-aroma ‘non harum’ a.k.a bau busuk yang sangat menyengat ketika lewat di sekitar wilayah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Atau, Mitra Persada melihat ada cairan-cairan yang keluar di sekitaran sampah yang menjadikan aroma ‘non-harum’ itu makin terasa lekat di hidung, bahkan menembus masker yang sudah kita gunakan?

Nah, kemungkinan Mitra Persada saat itu sedang berjumpa dengan ‘si Lindi’ nih. Tentu tidak dong, lindi bukan nama orang melainkan salah satu jenis limbah cair. Nah, supaya Mitra Persada memahami ‘si Lindi’ ini dengan lebih baik, yuk simak pembahasan MinPer tentang air lindi di bawah ini!

Pengertian Air Lindi

Dalam bahasa Inggris, lindi disebut sebagai ‘leachate’. Sederhananya, air lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari air hujan yang menggenang pada tumpukan sampah padat. Pada proses peresapan, air yang mengalir membawa partikel-partikel organik dari sampah yang ikut terlarut sehingga berpotensi membawa dampak pencemaran yang berbahaya bagi lingkungan. 

Warna kegelapan dan bau asam menyengat yang ditemukan pada air lindi merupakan hasil dari pembusukan berbagai jenis sampah organik dan anorganik yang tercampur. Tak hanya itu, limbah kimia yang dibuang sembarangan juga berpotensi menghasilkan lindi, seperti baterai bekas, peralatan elektronik, atau pembersih rumah tangga. Baterai bekas dan peralatan elektronik mengandung senyawa logam berat yang dapat membahayakan lingkungan sekitar jika tidak diolah dengan baik.

Faktor yang Memengaruhi Kadar Air Lindi

Lindi banyak ditemukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bukan tanpa alasan. Bercampurnya beragam jenis sampah, ditambah lingkungan terbuka menyebabkan sampah dapat terkontaminasi banyak zat, mulai dari bakteri, mikroorganisme, hingga air hujan yang turun tanpa dapat dibendung apapun. Meski bisa ditemukan di hampir seluruh TPA di belahan dunia manapun, kadar dari air lindi yang ada di setiap TPA tentu tidak bisa disamaratakan.

Pertanyaannya kemudian, apa saja faktor yang kemudian memengaruhi kadar air lindi yang dihasilkan? Nah, kalau MinPer sudah melempar pertanyaan seperti itu, biasanya sih MinPer sudah menyiapkan jawabannya ya, hehe. Yuk simak pembahasan MinPer terkait faktor-faktor yang memengaruhi kadar air lindi yang dihasilkan oleh tumpukan sampah. Beberapa faktor tersebut diantaranya :

a) Jenis Sampah

Air lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari proses dekomposisi / pembusukan, sehingga tentu jenis sampah akan berpengaruh terhadap kadar lindi yang dihasilkan. Sampah organik cenderung lebih mudah membusuk, sehingga menghasilkan kadar lindi yang lebih tinggi dibanding sampah anorganik. Meski begitu, sampah anorganik juga tidak kalah mengerikan.

Walaupun tidak menghasilkan lindi dalam jumlah sebanyak sampah organik, beberapa sampah anorganik seperti plastik dan logam cenderung menghasilkan lindi dengan kandungan logam berat, sehingga sangat berbahaya apabila dikonsumsi oleh makhluk hidup.

b) Proporsi dan Komposisi Sampah

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat bercampurnya segala jenis sampah, sehingga proporsi dan komposisi sampah yang ada pada suatu TPA menentukan kadar lindi yang dihasilkan. Kembali ke penjelasan MinPer di atas, semakin besar proporsi sampah organik tentu membuat proses pembusukan berlangsung lebih cepat.

c) Ukuran Partikel Tanah

Kadar dan kepekatan lindi tidak hanya ditentukan oleh jenis dan proporsi sampah, melainkan juga beberapa faktor di luar ‘sampah’ itu sendiri. Tanah yang ada di sekitar TPA juga menentukan. Bukan hanya tentang jenis tanahnya, namun tentang ukuran partikel tanah. Semakin kecil partikel tanahnya, maka akan menghambat laju lindi sehingga meminimalisir pencemarah air dan permukaan tanah. 

Sebaliknya, jenis tanah dengan pori-pori besar seperti tanah berpasir memungkinkan air lindi mengalir tanpa banyak tersaring, sehingga mencemari lingkungan sekitarnya.

d) Tingkat Pemadatan Tanah

Kembali ke prinsip yang telah MinPer jabarkan di atas, bahwa semakin besar rongga antar partikel tanah, maka semakin mudah juga aliran dan penyebaran lindi ke lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengurus biasanya melakukan pemadatan tanah di area TPA untuk mengatur aliran lindi agar tidak mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat di sekitarnya.

Semakin baik pemadatan yang dilakukan, semakin minim juga risiko kontaminasi air lindi terhadap air dan tanah yang digunakan sehari-hari oleh warga.

Baca Juga : Pahami Metode Pengujian TCLP pada Limbah B3

e) Hidrologi

Hidrologi yang dimaksud dalam konteks ini yakni kadar air yang ada di wilayah TPA, baik aliran air di sekitar TPA maupun curah hujan di wilayah tersebut. Mengingat definisi air lindi yang telah dijelaskan MinPer adalah air hujan yang meresap di sela-sela tumpukan sampah padat, sudah tentu semakin tinggi curah hujan di wilayah TPA tersebut akan meningkatkan kadar dan kepekatan lindi yang dihasilkan.

f) Iklim

Iklim turut berpengaruh juga terhadap pembentukan lindi, khususnya melalui suhu dan intensitas hujan. Pada daerah dengan curah hujan tinggi, produksi lindi tentu meningkat seiring dengan meningkatnya volume air yang meresap di tumpukan sampah. Pun sebaliknya, jika musim kemarau tiba bisa jadi volume lindi yang dihasilkan berkurang, namun konsentrasinya bisa jadi lebih pekat akibat adanya penguapan air.

g) Usia dan Lokasi TPA

Terakhir, usia dan lokasi TPA menentukan kadar dan kepekatan lindi yang terdapat pada TPA tersebut. Menariknya, TPA yang sudah lama biasanya menghasilkan lindi dengan kandungan organik yang lebih rendah karena sampah yang mudah busuk telah terurai. Meski begitu, kandungan logam berat dan zat kimia lainnya bisa jadi tetap tinggi karena tidak mudah diuraikan oleh mikroorganisme yang ada.

Selain itu, lokasi TPA yang jauh dari permukaan dan tidak berdekatan dengan sumber air cenderung memiliki potensi pencemaran yang lebih rendah dibanding TPA yang berdekatan dengan pemukiman masyarakat.

Kenapa Lindi Berbahaya dan Apa Dampaknya?

Mungkin masih banyak dari Mitra Persada yang merasa ‘air lindi kan adanya di TPA, ya udah sih biarin aja toh gak ganggu gua’. Weit jangan salah Mitra Persada, lindi memang seringkali ditemukan di TPA meski begitu jika tidak diperhatikan dan diolah dengan baik, dampaknya akan dengan sangat mudah menyebar dan menjangkit masyarakat di sekitarnya.

Bukan tanpa alasan, lindi dinilai berbahaya karena beberapa kandungan yang dapat menyebabkan kerugian baik bagi lingkungan maupun makhluk hidup di sekitarnya. Seperti biasa, urusan lingkungan serahkan pada PT Graha Mutu Persada. MinPer sudah merangkum beberapa poin yang menjadi jawaban dari pertanyaan, ‘kenapa sih air lindi berbahaya’ dan ‘emang apa dampaknya buat kita’?

a) Senyawa Organik

Senyawa jenis ini lebih rentan dan cepat mengalami pembusukan akibat diuraikan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan sebagainya. Adapun beberapa contoh senyawa organik yang terkandung di air lindi diantaranya : Hidrokarbon, sulfat, dan senyawa organik kompleks hasil pembusukan bahan biologis lainnya.

  • Dampak : Pencemaran air tanah dan permukaan, mengurangi kadar oksigen dalam air, menimbukan bau busuk yang menyengat.

b) Senyawa Anorganik

Berbeda dengan senyawa organik, senyawa ini tidak mudah membusuk dan diuraikan oleh mikroorganisme.  Contoh senyawa anorganik yang terkandung pada air lindi, yakni : Natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorin (Cl), serta berbagai jenis logam berat seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), dll. Zat kimia berupa logam berat bersifat beracun dan biokumulatif, artinya dapat menumpuk pada tubuh makhluk hidup dalam jumlah lama. 

  • Dampak : Kerusakan organ hati, ginjal, sistem saraf, hingga kanker mematikan.

c) Mikroba Patogen dan Parasit

Selain senyawa kimia, mikroorganisme dan parasit juga tak luput menyinggahi air lindi ini. Beberapa contoh mikroorganisme yang banyak ditemukan yakni Streptococcus, Escherichia (termasuk bakteri E. Coli), Pseudomonas, Proteus, serta parasit seperti kutu air.

  • Dampak : Infeksi saluran pencernaan (diare, tifus, kolera), iritasi kulit (dermatitis), gatal-gatal, dan sebagainiya.

Kesimpulan

Nah, dari penjelasan panjang MinPer tadi, kita bisa tahu bahwa air lindi bukan sekadar cairan ‘sisa sampah’ biasa, ya, Mitra Persada! Kandungan di dalamnya — mulai dari senyawa organik, anorganik, logam berat, hingga mikroba patogen dan parasit — menjadikannya sumber pencemaran berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Dapatkan Penawaran Uji Air Limbah Terbaik untuk Anda dan Perusahaan Anda

So, let’s protect our self and our beloved family dengan lebih aware dengan pengelolaan air limbah dan limbah B3 di rumah, rumah sakit, dan perusahaan di sekitar kita. Start small dengan cara menghubungi PT Graha Mutu Persada sebagai partner uji lingkungan terbaik yang melayani uji lingkungan di seluruh wilayah di Indonesia. Saat ini PT Graha Mutu Persada hadir di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, hingga Morowali, Sulawesi Tengah.

Hubungi 0823-3454-2313 (Marketing GMP) atau klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah laman ini!

Tags:
Share:
Link berhasil disalin!
Hubungi Kami