Lingkungan 14 Juli 2023 Oleh: Admin Persadalab

Mengenal Dampak Limbah Industri Tekstil terhadap Lingkungan

Mengenal Dampak Limbah Industri Tekstil terhadap Lingkungan

Industri dan limbah seringkali merupakan dua sisi yang berjalan beriringan. Semakin besar skala produksi dan kebutuhan masyarakat terhadap produk tersebut, semakin tinggi potensi keuntungannya, makin tinggi pula produksi limbah yang dihasilkan.

Artikel ini akan membahas terkait definisi limbah tekstil, diferensiasi dengan limbah industri lainnya, serta dampaknya kepada lingkungan. Seperti biasa, MinPer sudah siapkan penjelasannya untuk Mitra Persada sekalian. Dibaca baik-baik, ya!

Apa Itu Limbah Tekstil?

Limbah merupakan sisa-sisa dari suatu proses produksi / kegiatan yang dilakukan manusia, yang tidak memiliki manfaat maupun nilai ekonomis. Lebih lagi, limbah juga seringkali dapat menyebabkan pencemaran yang merugikan lingkungan dan kesehatan manusia di sekitarnya.  

Limbah tekstil secara spesifik merupakan sisa dari proses produksi di lingkup industri tekstil, seperti pakaian, aksesoris, bahan kain, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga. 

Pemerintah bukan tanpa alasan mengeluarkan regulasi Permen LH no. 12 / 2025 yang secara spesifik membahas Air Limbah untuk Usaha / Kegiatan Tekstil. 

Volume produksi yang sangat masif, perputaran kebutuhan yang cepat, dan penggunaan beberapa bahan produksi yang memiliki potensi ancaman bagi lingkungan menjadi penyebab limbah pada sektor industri ini perlu diberi perhatian lebih.

Baca Juga : Baku Mutu Air Limbah Tekstil Terbaru sesuai Regulasi Permen LH no. 12

Industri Tekstil dan kontribusinya terhadap Limbah Industri

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), bapak https://indotextiles.com/joomla30/2632-industri-tekstil-mulai-bangkit-dorong-pertumbuhan-ekonomi-nasional menjelaskan bahwa pada kuartal 1 tahun 2025, industri tekstil menjadi salah satu andalan dengan menyumbang 0,99% dari Total Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Angka ini mengindikasikan besarnya produksi yang dihasilkan oleh para pelaku industri tekstil.

Ironi ketika melihat besarnya potensi industri ini berbanding lurus dengan pencemaran yang dihasilkan, dimana sektor ini menyumbang 10% dari total emisi karbon di Indonesia. Lebih lagi, 85% limbah tekstil dibuang langsung tanpa melalui proses daur ulang sehingga menjadi tumpukan sampah yang merugikan. Berikut beberapa kontribusi limbah terhadap produksi limbah industri : 

Volume Produksi yang Sangat Tinggi

Menurut data yang dilansir oleh United Nations Environment Programme (UNEP), setiap tahun terdapat lebih dari 92 juta ton limbah tekstil yang dihasilkan di seluruh dunia. Jika dianalogikan dengan lebih sederhana, setiap detiknya ada 1 truk berisikan limbah tekstil yang diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Terlebih ditambah dengan narasi fast fashion, dimana tren berubah dengan sangat cepat sehingga menyebabkan rata-rata masa pakai pakaian hanya berkisar 6-12 bulan. Fenomena ini menuntut produsen untuk terus memproduksi pakaian dengan tren terbaru, yang otomatis meningkatkan kuantitas limbah yang dihasilkan.

Termasuk kategori yang Sulit Diolah

Limbah tekstil merupakan salah satu kategori limbah yang cenderung sulit untuk diolah dan diuraikan. Hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya yakni : 

  • Warna yang Pekat, Stabil, dan Sulit Terdegradasi

Zat pewarna merupakan salah satu kebutuhan utama dalam proses produksi untuk menghasilkan produk tekstil. Zat warna tekstil seperti reaktif, direct, dan disperse memiliki kandungan senyawa aromatik yang memiliki sifat stabil dan tidak reaktif, sehingga tidak mudah diuraikan.

Hal ini menyebabkan bakteri yang dituangkan di IPAL tidak mampu memecah dan menguraikannya secara optimal, serta menyebabkan air tetap muncul pada fase outlet meskipun sudah melalui proses aerasi.

  • Kandungan Bahan Kimia yang Kompleks

Pengolahan limbah tekstil seringkali berat bagi sistem biologis yang diaplikasikan ke IPAL akibat kontaminasi dari berbagai jenis zat kimia, dimana sebagian diantaranya bersifat toksik. 

Sebagai contoh surfaktan & emulsifier yang digunakan dalam proses pencucian dan pencampuran zat warna yang beberapa diantaranya sulit diuraikan sehingga menyebabkan beban parameter COD menjadi tinggi.

Kontaminasi berbagai zat kimia dengan volume yang sangat tinggi seringkali menyebabkan biological shock, dimana sistem biologis yang diaplikasikan tidak sempat beradaptasi hingga menyebabkan bakteri stres atau bahkan mati. 

Situasi ini seringkali terjadi ketika ada lonjakan bahan toksik, perubahan pH secara drastis, dan lonjakan beban organik.

  • COD / BOD Tinggi dari Sisa Organik dan Zat Pewarna

Penggunaan zat kimia yang sangat tinggi menyebabkan potensi kontaminasi limbah dengan zat-zat berbahaya tersebut meningkat, yang kemudian menyebabkan parameter COD & BOD pada limbah tekstil menyentuh angka yang sangat tinggi. 

COD limbah tekstil >3.000mg/L (puluhan kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan pada regulasi Permen LH 12 / 2025). 

Jika beban COD tidak distabilkan, proses aerasi akan membutuhkan dorongan energi (listrik) yang lebih besar, dan hasil pengolahan limbah menjadi tidak stabil.

  • Fluktuasi pH Ekstrem

Kadar pH pada limbah tekstil dapat berada pada rentang yang sangat ekstrem, baik asam kuat (3-4) hingga basa kuat (9-13).

Fluktuasi yang ekstrim dapat merusak membran filtrasi (Ultra Filtrasi / Reverse Osmosis) seperti degradasi material polimer dan percepatan fouling (penyumbatan), sehingga menyebabkan perubahan struktural yang bersifat permanen.

Dampak Limbah Tekstil bagi Lingkungan

Penjabaran di atas memvalidasi bahwa dampak limbah tekstil bagi lingkungan sangat mengerikan. Berikut MinPer merangkum beberapa dampak spesifik limbah tekstil bagi lingkungan di sekitarnya : 

Dampak terhadap Pencemaran Air

Pertama, limbah yang dihasilkan dari perusahaan pakaian adalah limbah cair, yang tentu akan menyebabkan pencemaran air. Beberapa industri tekstil menggunakan bahan-bahan yang sulit diuraikan seperti serat sintetis, diantaranya yakni akrilik, nilon, dan poliester. Bahan-bahan tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai. 

International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2017 menunjukkan bahwa bahan tekstil seperti poliester menyumbang 35% dari total mikroplastik di lautan. Sayangnya, limbah dengan jenis seperti ini tidak dapat diuraikan secara alami. Jika dibiarkan terus menerus menumpuk, bukan tidak mungkin akan mengganggu stabilitas ekosistem di lautan.

Dampak Terhadap Pencemaran Udara

Seperti yang telah MinPer jelaskan di atas, bahwa industri ini 'spesial'. Produksi limbah bukan hanya bersumber dari proses produksi, namun juga setelah produk jadi / tidak terpakai lagi. Daripada terus menumpuk, ujung-ujungnya solusinya cuma satu. Dibakar.

Proses pembakaran pakaian bekas tentu menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang memiliki berbagai kandungan berbahaya, seperti karbondioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), serta partikel halus (PM2.5) yang memiliki dampak buruk untuk kesehatan manusia dan lingkungan.

Pembakaran pakaian bekas juga dapat menyebabkan polusi mikroplastik, yang ketika dihirup oleh makhluk hidup seperti manusia dan hewan dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan dan reproduksi.

Dampak terhadap Pencemaran Tanah

Menengok fenomena yang terjadi satu dasawarsa silam, di wilayah Boyolali terdapat sawah yang terkontaminasi limbah tekstil ini. Dampaknya fatal, mulai dari warna permukaan tanah jadi kekuning-kuningan, rusaknya zat hara, hingga matinya hewan-hewan kecil seperti belut, cacing, dan mikroorganisme lainnya.

Kesimpulan

Ya, kesadaran pelaku industri saat ini memang menjadi faktor utama yang menentukan peningkatan kualitas pengolahan limbah tekstil sebelum dibuang ke lingkungan. Syukur-syukur bisa didaur ulang agar meminimalisir limbah yang dibuang langsung ke lingkungan.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari penjelasan MinPer di atas adalah.... Bahwa bukan tanpa alasan pemerintah meningkatkan perhatian terhadap limbah tekstil. Artikel ini menyajikan rangkuman lengkap terhadap dampak pembuangan limbah tekstil secara sembarangan terhadap lingkungan, yang pastinya akan memengaruhi kesehatan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Link berhasil disalin!
Hubungi Kami