Expert 19 Februari 2026 Oleh: Halimatus Sa'diyah

Tips Mengatasi Coliform Air Limbah agar Aman & Bebas Bakteri

Tips Mengatasi Coliform Air Limbah agar Aman & Bebas Bakteri

Total coliform yang tinggi pada air limbah merupakan indikator adanya pencemaran mikrobiologis, terutama kontaminasi fekal dari manusia atau hewan. Jika air limbah dibuang tanpa pengolahan yang memadai, kondisi ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, gangguan ekosistem perairan, serta peningkatan risiko penyakit berbasis air. Oleh sebab itu, pengelolaan air limbah menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sangat diperlukan sebelum air dibuang ke badan air.

Bagaimana memastikan agar kadar coliform pada air limbah perusahaan kita sesuai baku mutu? Simak pembahasan MinPer di bawah ini.

Apa Itu Total Coliform

Bakteri coliform merupakan kelompok bakteri Gram negatif berbentuk batang yang secara konvensional termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Kelompok ini mampu memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu inkubasi tertentu, sehingga sering digunakan sebagai indikator pencemaran mikrobiologis pada air.

Secara umum, bakteri coliform dibedakan menjadi dua kelompok utama,

  1. Coliform fecal, misalnya Escherichia coli
  2. Coliform non-fecal, misalnya Enterobacter aerogenes

Bakteri fecal merupakan bakteri coliform yang berasal dari kotoran manusia atau hewan berdarah lainnya, sedangkan coliform non-fecal adalah jenis bakteri coliform yang terdapat pada hewan atau tanaman-tanaman yang telah mati atau membusuk. 

Bakteri ini ditemukan di berbagai habitat, baik dalam saluran pencernaan maupun di lingkungan seperti tanah dan air. 

Coliform digunakan sebagai bakteri indikator pencemaran fecal dan potensi keberadaan patogen lain. Sehingga pencemaran limbah domestik dapat dideteksi dengan menghitung kepadatan jumlah coliform yang terdapat pada perairan.

Jika kadar total coliform melonjak pada air limbah, maka air limbah tersebut berisiko tidak memenuhi standar kualitas dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan seperti diare, infeksi saluran pencernaan, hingga komplikasi serius pada individu rentan. 

Kenapa Coliform Bisa Tinggi?

Tingginya kadar bakteri coliform dalam perairan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti: 

  • Kontaminasi Limbah Domestik

Total coliform, terutama bakteri fecal coliform dan E. coli, merupakan bakteri yang berasal dari kotoran manusia atau hewan. Apabila terjadi kontaminasi dari sumber-sumber bakteri tersebut, seperti kebocoran septic tank maupun pembuangan limbah langsung ke drainase, maka akan terjadi lonjakan kadar total coliform dalam perairan. Kontaminasi limbah domestik seperti ini sering terjadi di area padat penduduk atau lingkungan dengan sistem sanitasi yang kurang baik.

Baca Juga : Simak Pembahasan Baku Mutu Air Limbah Domestik sesuai Regulasi Terbaru

  • Proses Sistem Pengelolaan Limbah Tidak Optimal

Beberapa industri, perusahaan, maupun rumah tangga yang menggunakan instalasi pengolahan akhir limbah (IPAL) masih memungkinkan menjadi faktor penyebab tingginya kadar bakteri coliform dalam perairan. Apalagi bila IPAL yang digunakan tidak dapat berjalan dengan optimal karena bakteri coliform tidak akan tereduksi dengan baik, sehingga masih dapat terlepas ke lingkungan. Beberapa penyebab bakteri coliform tetap dapat lolos dari sistem IPAL :

  • Waktu rata-rata air limbah berada pada reactor pengolahan (HRT- Hydraulic Retention Time) terlalu singkat

  • Disinfeksi menggunakan Clorin atau UV tidak Efektif

  • Lumpur aktif tidak berjalan dengan stabil

  • Biofilter yang tersumbat sehingga tidak dapat menyaring bakteri coliform dengan baik

Untuk pembahasan lebih mendalam terkait pengelolaan air limbah yang optimal, ikuti juga webinar yang akan diselenggarakan oleh PT Graha Mutu Persada dengan tema “Membedah Strategi Pengelolaan IPAL sebagai Investasi Jangka Panjang Bisnis”.

Sesi Mimbar Pakar kali ini akan menghadirkan pembicara yang ahli dalam bidang Water & Wastewater Treatment, Bapak Ir. Dwi Handaya, S.T., MK3, IPM.

  • Beban Organik Tinggi (Kadar BOD dan COD Tinggi)

Bakteri coliform akan tumbuh subur dalam kondisi yang kaya akan bahan organik, seperti kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD). Kedua zat organik tersebut akan memberikan makanan yang berlimpah kepada bakteri coliform, sehingga kadar total coliform semakin meningkat dan perairan semakin tercemar. Kondisi ini sering terjadi pada lingkungan industri makanan dan minuman, lingkungan rumah makan, rumah potong hewan, dan permukiman.

  • Dampak Kondisi Hujan

Pada musim penghujan, biasanya kandungan bakteri coliform pada aliran sungai atau drainase lainnya akan melonjak tinggi, terutama pada daerah-daerah yang dekat dengan sumber bakteri coliform seperti septik tank dan kandang ternak. Hal ini dikarenakan saat hujan, air limpasan akan membawa kotoran hewan dan luapan air limbah septic tank, sehingga akan terjadi lonjakan kandungan bakteri coliform dalam perairan.

Tips Ampuh Mengatasi & Menurunkan Total Coliform

Bakteri coliform dapat dikendalikan agar tidak mencemari lingkungan, berikut cara yang cukup efektif untuk menurunkan kadar coliform pada air limbah:

  1. Optimalkan Kinerja IPAL

Untuk menurunkan kadar total coliform secara efektif, diperlukan sistem pengolahan air limbah yang memadai melalui IPAL yang dirancang dan dioperasikan sesuai standar. IPAL berfungsi sebagai pengelola air limbah sebelum masuk ke dalam lingkungan. Proses pengolahan air limbah pada umumnya dilakukan secara bertahap. Tahapan pengolahan dalam IPAL terdiri dari proses :

  • Proses primer (fisik)

  • Proses sekunder (biologis)

  • Proses tersier (fisika - kimia) 

Proses sekunder pada IPAL menjadi kunci dalam penurunan mikroorganisme seperti bakteri coliform. Proses sekunder tersebut menggunakan mikroba seperti bakteri pembentuk flok dan protozoa yang berperan dalam penurunan jumlah mikroba patogen dalam air limbah.

Pengoptimalan kondisi IPAL tentunya perlu dilakukan agar proses reduksi bakteri berjalan maksimal. Pengoptimalan IPAL dapat dilakukan dengan cara :

  • Memastikan waktu rata-rata air limbah di dalam reaktor pengolahan atau disebut juga Hydraulic Retention Time (HRT) IPAL 

  • Menjaga kestabilan lumpur aktif

  • Melakukan perawatan rutin pada biofilter IPAL

  • Mengontrol kadar DO dalam sistem biologis 

  1. Menurunkan kadar beban organik (BOD dan COD)

Kadar BOD dan COD merupakan sumber nutrisi bagi bakteri, penurunan beban organik menjadi langkah penting dalam mengendalikan pertumbuhan coliform. Proses penurunan beban organik (BOD dan COD) bisa dilakukan melalui proses IPAL, dengan menggunakan kombinasi tahapan fisik, biologi dan kimia. 

  • Tahapan Fisik 

Tahapan ini bertujuan mengurangi beban organik kasar (sampah-sampah berukuran besar, pasir, minyak, dan lemak) sehingga akan mengurangi kandungan BOD dan COD yang ada di air limbah.

  • Tahapan Biologis

Tahapan biologis merupakan proses utama dalam menurunkan beban organik. Mikroorganisme akan menguraikan bahan organik menjadi CO₂, air, dan biomassa. Setelah proses ini, campuran air dan lumpur aktif dialirkan ke secondary clarifier untuk memisahkan biomassa agar tidak ikut terbawa bersama effluent.

  • Tahapan Kimia 

Tahapan kimia dilakukan untuk menghilangkan sisa polutan yang belum terurai secara biologis, seperti nutrien (nitrogen dan fosfor) serta mikroorganisme patogen. Proses ini dapat dilakukan melalui koagulasi-flokulasi, filtrasi, atau disinfeksi menggunakan klorin, ozon, maupun sinar UV.

Dengan beberapa tahapan di atas, kadar BOD dan COD akan menurun, sehingga kadar total coliform juga akan secara bersamaan menurun, sehingga air limbah akan aman dibuang ke lingkungan.

Baca Juga : Limbah Ini Rentan Memiliki Kadar COD & BOD yang Sangat Tinggi!

  1. Perbaikan sanitasi lingkungan

Perbaikan sanitasi lingkungan menjadi salah satu langkah preventif dalam mengatasi dan menurunkan kadar total coliform pada air limbah maupun badan air di sekitar sumber limbah. Sanitasi yang buruk dapat menjadi sumber kontaminasi ulang, bahkan ketika proses pengolahan dengan sistem IPAL telah berjalan dengan baik. Perbaikan sanitasi dapat dilakukan dengan cara:

  • Memastikan septic tank kedap dan tidak mudah bocor ke badan air sekitar

  • Pemisahan saluran air hujan dan limbah domestik 

  • Menjaga kebersihan area sekitar IPAL

  • Apabila memiliki hewan ternak, buat sistem penampungan limbah ternak secara terpisah

  1. Melakukan Monitoring Rutin

Monitoring rutin merupakan bagian penting dalam pengendalian pencemaran air limbah. Pengujian berkala diperlukan untuk memastikan bahwa air limbah sudah sesuai dengan baku mutu yang berlaku dan tidak menimbulkan risiko kesehatan maupun pencemaran lingkungan. 

Pada proses IPAL, monitoring dapat dilakukan dengan menganalisis pada dua titik utama, yaitu bagian inlet (titik masuk air limbah sebelum diproses) dan outlet (titik keluarnya air limbah setelah melalui proses pengolahan). Perbedaan konsentrasi total coliform pada inlet dan outlet merupakan indikator utama dalam menilai efektivitas pengolahan air limbah. Dengan monitoring yang konsisten, potensi kenaikan kadar pencemar seperti kadar total coliform dapat terdeteksi lebih awal sebelum melebihi ambang batas yang ditetapkan.  

Kesimpulan

Peningkatan total coliform pada air limbah menunjukkan adanya pencemaran fekal yang berisiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kontaminasi limbah domestik, sistem IPAL yang tidak optimal, beban organik tinggi (BOD dan COD), serta faktor lingkungan seperti hujan dan sanitasi yang buruk.

Untuk mencegah dampak negatif tersebut, diperlukan pengelolaan limbah yang baik melalui optimalisasi IPAL, pengendalian beban organik, perbaikan sanitasi, serta monitoring dan pengujian kualitas air secara berkala agar memenuhi baku mutu yang berlaku.

Link berhasil disalin!
Hubungi Kami